Woensdag 29 Mei 2013

Tapak Tilas, Sang Pembabat Pulau Sapudi
Oleh: Muhammad Ali *
Sejarah merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, sejarah bisa menjadi bukti tentang adanya dinamika kehidupan dalam dunia ini. Dengan sejarah, kita akan mampu menelusuri atau meneliti tentang tapak tilas seseorang, baik itu dari jasa-jasanya dan artefak-artefak yang dia tinggalkan, baik berupa pusaka, perhiasan, dan juga hasil karaya-karyanya yang menjadi bukti kehidupannya.
Pulau Sapudi adalah kepulauan yang ada di kabupaten sumenep, tepatnya di arah timur kabupaten sumenep dibaratnya kepulauan Ra’as. Dipulau tersebut terdapat tokoh penyebar islam dan sekaligus pembabat pertama pulau tersebut, yang jasa-jasanya sangat dinikmati oleh masyarakat. baik yang berupa materi maupun non materi yaitu raden Aryo Pulang Jiwo atau lebih mashur disebut panembahan Sunan Wirokromo Blingi dan Aryo sepuh dewe (Adi Podey).
Dalam catatan silsilah yang ada di Asta Blingi (Tempat pemakamannya Sunan Wirokromo), raden Aryo Pulang Jiwo dan Aryo sepuh dewe (Adi Podey) masih mempunyai garis keturunan dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel Surabaya. Bahkan, dalam buku Babat  Sumenep, ia tercatat sebagai orang yang pertama kali yang membabat Pulau Sapudi dan Ra'as.
Banyak versi mengenai asal usul dari keduanya,  ada sebagian mengatakan Adi Rasa dan Adi Podey merupakan keturunan orang Madura, tetapi yang banyak berkembang dimasyarakat dan dikuatkan dengan penelusuran para ahli sejarah, yang benar keduanya merupakan keturunan orang jawa. dilihat dari perjalan sejarahnya, kemungkinan mereka merupakan keturunan dari seorang raja. Tetapi banyak orang menafsirkan bahwa Adi Rasa dan Adi Podey adalah keturunan raja tetapi, setelah melalui penelusuran sejarah raja yang mempunyai anak yang bertapa di gunung arjuna tidak ada, tetapi para ahli sejarah meneliti tentang tapak tilas dari keduanya, ia merupakan keturunan dari orang kampung, yang kemudian bertapa di gunung arjuna.
Selama bertapan di gunung arjuna, keduanya kemudian mendapatkan pusaka, yang menjadi pegangan selama turun dari gunung arjuna hingga sampai di Pulau Sapudi. dan menjadi alat pembabat Pulau Sapudi dan Ra’as, yaitu Adi Rasa mendapatkan Calok Kodhi sedangkan Adi Podey mendapatkan Calok Carangcang, dan pada waktu itu keduanya masih belum mempunyai nama julukan Adi Rasa dan Adi Podey.
Ketika Adi Rasa dan Adi Podey bertapa digunung arjuna, mereka terpaksa turun lantaran takut terkena imbas perang singosari. sehingga keduannya turun dari gunung arjuna, lewat pinggir timur sungai brantas, dan kemudian melanjutkan perjalanannya hingga melewati Surabaya, kemudian mengambil jalan pintas lewat daerah bangkalan, hingga sampai di pinggir timur pulau Madura yaitu daerah Lapa Taman.
Setelah sampai di Lapa Taman, kemudian mereka berdua meneruskan kembali perjalanannya sampai Kepulau Sapudi, dengan menaiki perahu kecil (Karocok), kalau melihat dari cerita yang berkembang sangat ada hubungannya antara kerajaan singosari dengan kejayaan Adi Podey pada waktu itu (red: Suryo).
Tempat persinggahan pertama kali Adi Rasa dan Adi Podey adalah di desa Kaloang, yang diberi nama langsung oleh Adi Podey dan juga merupakan awal tempat yang pertama kali meraka membabat pulau tersebut, sehingga di desa tersebut dinamai karang loang. Yang pada waktu itu masih belum dibentuk pulau, masih berbentuk rumah biasa, kemudian sedikit demi sedikit keduanya membentuk perkampungan yang di ambil dari nama karang tersebut sehingga di Sapudi terdapat nama desa yang bernama karang yaitu karang tengah dan karang loang.
Pada waktu itu, Pulau Sapudi masih belum ada penduduknya, yang menjadi awal mula pembabatan pulau tersebut kira pada abad ke-12. Beliau hanya bermodal dengan sebilah benda pusaka yang diyakini sangat sakti mandra guna untuk menjaga dirinya dari bahaya yang akan menghadang. Karena beliau sebagai pembabat pasti banyak rintangan yang akan menghadang, baik mahluk halus ataupun binatang buas, yang kapanpun bisa datang menerkam bahkan mencabik cabik dirinya. setelah selesai membabat pulau tersebut, kemudian keduannya mempunyai rencana untuk membentuk pembagian wilayah, yang kemudian didatangi oleh Pujangga Pertala Adi sebagai saksi pembagian Pulau Sapudi dan Pulau Ra’as.
Kedua pulau tersebut, pada waktu itu masih belum mempunyai nama, dan masih berbentuk wilayah. setelah berkumpul dengan Pertala Adi yang waktu itu sebagai tamu, kemudian Pujangga Pertala Adi memberi nama keduanya, yang tertua diberi julukan Adi Cipto Roso, karena Adi Rasa hanya mengandalkan perasaannya, hal itu terbukti dengan karomahnya, apa yang dia lihat dan dia rasakan mampu membuat barang yang lunak jadi keras dan yang keras menjadi lunak.
Nama itu yang pertama kali diberikan oleh pujangga pertala Adi kepada Adi Rasa, yang di cocokkan dengan kegiatannya mulai dari membabat pulau Sapudi hingga membentuk suatu perkampungan. Dan pujangga Pertala Adi bertanya kepada Adi Podey “ kamu bagai mana caranya membabat dan dengan apa” dan Adi Podey menjawabnya yaitu dengan Calok, dan pujangga pertala Adi mengatakan “ya, kalau begitu kamu bekerja lebih mampu ketimbang kakaknya”, dan kemudian diberi nama julukan Adi Sepuh Dewe.
Kemudia sang kakak terkejut mendengarnya, dan berkata “ kok dikasikan ke adek nama itu,  padahal dia lebih tua saya” dan pujangga Pertala Adi berkata “ iya benar, orangnya lebih tua kamu ketimbang adeknya, tetapi ilmunya lebih tua adeknya, kamu hanya dapat naik ke tali layang-layang, sedangkan adeknya dapat memanggil layangan yang ada di atas udara, kamu hanya dapat mengambil kelapa dengan bambu (kele), seandainya kamu sanggup mencondongkan kelapa tampa alat apa-apa, ya kamu benar yang paling tua. Adi Rasa “ ya ini sudah kemampuan saya” pujangga pertala adi “ ya sudah segala kemampuan adeknya merupakan keunggulan dari kamu, jadi sekarang yang mempunyai hak tertua ilmunya yaitu Adi Sepuh Dewe.
Setelah selesai bermusyawarah kemudia keduanya berpisah, Adi Cipto Roso kembali ke Ra’as dan Adi Sepuh Dewe ada di Sapudi. kemudia setelah bertemu lagi keduanya mengadu ilmu kesaktiannya, Adi Rasa dapat naik ke tali layangan yang kemudian ilmu tersebut diturunkan ke Pujuk Sahela (Angganete) nama Asli Ju’ Kaji, dan mempunyai putra perjaka yang mempunyai julukan Pujuk Lanceng. Setelah mengadu ilmu keduanya ternyata kakaknya kalah sama adeknya, sehingga kakaknya mempunyai keinginan untuk mengejar ilmu adeknya. sampai mengajak kembali kepertapaanya.
Dan kemudian bertapa di gunung Gegger bangkalan, yang tujuannya untuk menambah ilmunya (kesaktian). setelah lama bertapa, kemudian terjadi suatu kejadian yaitu hujan, angin yang luar biasa, sehingga diantara keduanya tidak bisa melihat akibat terjadi badai, dan dari situ batas berkumpulnya antara keduanya, karena akibat badai besar tersebut, dan kemudian Adi Rasa barkata pada adiknya “sekarang dik disini batasnya kamu berkumpul degan saya, Cuma dimana diakhir zaman kamu akan bertemu dengan saya, dan saya nitip sama kamu, kalau sampean belum menciptakan keturunan jangan turun-turun dari ujung ilalang tersebut”, dan adeknya sanggup.
Dan pada waktu itu adi podey bermimpi bersopena (memadu kasih sayang secara batin) dengan potre koneng, sehingga kemudian tercipta keturunan yang menjadi mahkota dalam kehidupannya yaitu joko tole, dan Adi Rasa tidak diketahui kemana perginya semenjak keduanya berpisah berpisah. Dan Adi Rasa sebelum pergi dia berkata kepada adiknya “ dimana ada kuburan baru yang tidak ada orang meninggal itu bekasnya saya”, dan begitupun dengan adiknya yang juga berpesan sama dengan kakaknya. Hingga ahirnya, ditemukanlah kuburan baru yang terdapat di Nyamplong dan terus kemudian menyusul kuburan baru yang bertempat di Belingi yang setiap malam jumat memancarkan cahaya (tejhe), karena pada waktu itu tidak sulit untuk mencari kuburan karena pada waktu itu Pulau Sepudi masih sedikit penghuninya. 

*Penulis adalah Anggota Kajian Pojok Surau PP Nurul Jadid




Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking