Tapak Tilas, Sang Pembabat Pulau
Sapudi
Oleh: Muhammad
Ali *
Sejarah
merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, sejarah bisa menjadi bukti
tentang adanya dinamika kehidupan dalam dunia ini. Dengan sejarah, kita akan
mampu menelusuri atau meneliti tentang tapak tilas seseorang, baik itu dari
jasa-jasanya dan artefak-artefak yang dia tinggalkan, baik berupa pusaka,
perhiasan, dan juga hasil karaya-karyanya yang menjadi bukti kehidupannya.
Pulau Sapudi adalah
kepulauan yang ada di kabupaten sumenep, tepatnya di arah timur kabupaten
sumenep dibaratnya kepulauan Ra’as. Dipulau tersebut terdapat tokoh penyebar
islam dan sekaligus pembabat pertama pulau tersebut, yang jasa-jasanya sangat
dinikmati oleh masyarakat. baik yang berupa materi maupun non materi yaitu raden
Aryo Pulang Jiwo atau lebih mashur disebut panembahan Sunan Wirokromo Blingi
dan Aryo sepuh dewe (Adi Podey).
Dalam catatan silsilah
yang ada di Asta Blingi (Tempat pemakamannya Sunan Wirokromo), raden Aryo
Pulang Jiwo dan Aryo sepuh dewe (Adi Podey) masih mempunyai garis keturunan
dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel Surabaya. Bahkan, dalam buku Babat Sumenep, ia tercatat sebagai orang yang
pertama kali yang membabat Pulau Sapudi dan Ra'as.
Banyak versi mengenai asal usul
dari keduanya, ada sebagian mengatakan Adi Rasa dan Adi Podey
merupakan keturunan orang Madura, tetapi yang banyak berkembang dimasyarakat dan
dikuatkan dengan penelusuran para ahli sejarah, yang benar keduanya merupakan
keturunan orang jawa. dilihat dari perjalan sejarahnya, kemungkinan mereka
merupakan keturunan dari seorang raja. Tetapi banyak orang menafsirkan bahwa Adi
Rasa dan Adi Podey adalah keturunan raja tetapi, setelah melalui penelusuran
sejarah raja yang mempunyai anak yang bertapa di gunung arjuna tidak ada, tetapi para ahli
sejarah meneliti tentang tapak tilas dari keduanya, ia merupakan keturunan dari
orang kampung, yang kemudian bertapa di gunung arjuna.
Selama bertapan di gunung arjuna,
keduanya kemudian mendapatkan pusaka, yang menjadi pegangan selama turun dari
gunung arjuna hingga sampai di Pulau Sapudi. dan menjadi alat pembabat Pulau
Sapudi dan Ra’as, yaitu Adi Rasa mendapatkan Calok Kodhi sedangkan Adi Podey
mendapatkan Calok Carangcang, dan pada waktu itu keduanya masih belum mempunyai
nama julukan Adi Rasa dan Adi Podey.
Ketika Adi Rasa dan Adi Podey bertapa
digunung arjuna, mereka terpaksa turun lantaran takut terkena imbas perang
singosari. sehingga keduannya turun dari gunung arjuna, lewat pinggir timur
sungai brantas, dan kemudian melanjutkan perjalanannya hingga melewati Surabaya,
kemudian mengambil jalan pintas lewat daerah bangkalan, hingga sampai di pinggir
timur pulau Madura yaitu daerah Lapa Taman.
Setelah sampai di Lapa Taman,
kemudian mereka berdua meneruskan kembali perjalanannya sampai Kepulau Sapudi,
dengan menaiki perahu kecil (Karocok),
kalau melihat dari cerita yang berkembang sangat ada hubungannya antara
kerajaan singosari dengan kejayaan Adi Podey pada waktu itu (red: Suryo).
Tempat persinggahan pertama kali
Adi Rasa dan Adi Podey adalah di desa Kaloang, yang diberi nama langsung oleh Adi
Podey dan juga merupakan awal tempat yang pertama kali meraka membabat pulau
tersebut, sehingga di desa tersebut dinamai karang loang. Yang pada waktu itu
masih belum dibentuk pulau, masih berbentuk rumah biasa, kemudian sedikit demi
sedikit keduanya membentuk perkampungan yang di ambil dari nama karang tersebut
sehingga di Sapudi terdapat nama desa yang bernama karang yaitu karang tengah
dan karang loang.
Pada waktu itu, Pulau Sapudi masih
belum ada penduduknya, yang menjadi awal mula pembabatan pulau tersebut kira pada
abad ke-12. Beliau
hanya bermodal dengan sebilah benda pusaka yang diyakini sangat sakti mandra
guna untuk menjaga dirinya dari bahaya yang akan menghadang. Karena beliau
sebagai pembabat pasti banyak rintangan yang akan menghadang, baik mahluk halus
ataupun binatang buas, yang kapanpun bisa datang menerkam bahkan mencabik cabik
dirinya. setelah
selesai membabat pulau tersebut, kemudian keduannya mempunyai rencana untuk
membentuk pembagian wilayah, yang kemudian didatangi oleh Pujangga Pertala Adi sebagai
saksi pembagian Pulau Sapudi dan Pulau Ra’as.
Kedua pulau tersebut, pada waktu
itu masih belum mempunyai nama, dan masih berbentuk wilayah. setelah berkumpul
dengan Pertala Adi yang waktu itu sebagai tamu, kemudian Pujangga Pertala Adi
memberi nama keduanya, yang tertua diberi julukan Adi Cipto Roso, karena Adi
Rasa hanya mengandalkan perasaannya, hal itu terbukti dengan karomahnya, apa
yang dia lihat dan dia rasakan mampu membuat barang yang lunak jadi keras dan
yang keras menjadi lunak.
Nama itu yang pertama kali diberikan
oleh pujangga pertala Adi kepada Adi Rasa, yang di cocokkan dengan kegiatannya
mulai dari membabat pulau Sapudi hingga membentuk suatu perkampungan. Dan pujangga
Pertala Adi bertanya kepada Adi Podey “ kamu bagai mana caranya membabat dan
dengan apa” dan Adi Podey menjawabnya yaitu dengan Calok, dan pujangga pertala
Adi mengatakan “ya, kalau begitu kamu bekerja lebih mampu ketimbang kakaknya”,
dan kemudian diberi nama julukan Adi Sepuh Dewe.
Kemudia sang kakak terkejut
mendengarnya, dan berkata “ kok dikasikan ke adek nama itu, padahal dia lebih tua saya” dan pujangga Pertala
Adi berkata “ iya benar, orangnya lebih tua kamu ketimbang adeknya, tetapi
ilmunya lebih tua adeknya, kamu hanya dapat naik ke tali layang-layang,
sedangkan adeknya dapat memanggil layangan yang ada di atas udara, kamu hanya
dapat mengambil kelapa dengan bambu (kele),
seandainya kamu sanggup mencondongkan kelapa tampa alat apa-apa, ya kamu benar
yang paling tua. Adi Rasa “ ya ini sudah kemampuan saya” pujangga pertala adi “
ya sudah segala kemampuan adeknya merupakan keunggulan dari kamu, jadi sekarang
yang mempunyai hak tertua ilmunya yaitu Adi Sepuh Dewe.
Setelah selesai bermusyawarah
kemudia keduanya berpisah, Adi Cipto Roso kembali ke Ra’as dan Adi Sepuh Dewe ada
di Sapudi. kemudia setelah bertemu lagi keduanya mengadu ilmu kesaktiannya, Adi
Rasa dapat naik ke tali layangan yang kemudian ilmu tersebut diturunkan ke Pujuk
Sahela (Angganete) nama Asli Ju’ Kaji,
dan mempunyai putra perjaka yang mempunyai julukan Pujuk Lanceng. Setelah
mengadu ilmu keduanya ternyata kakaknya kalah sama adeknya, sehingga kakaknya
mempunyai keinginan untuk mengejar ilmu adeknya. sampai mengajak kembali
kepertapaanya.
Dan kemudian bertapa di gunung
Gegger bangkalan, yang tujuannya untuk menambah ilmunya (kesaktian). setelah
lama bertapa, kemudian terjadi suatu kejadian yaitu hujan, angin yang luar
biasa, sehingga diantara keduanya tidak bisa melihat akibat terjadi badai, dan
dari situ batas berkumpulnya antara keduanya, karena akibat badai besar tersebut,
dan kemudian Adi Rasa barkata pada adiknya “sekarang dik disini batasnya kamu
berkumpul degan saya, Cuma dimana diakhir zaman kamu akan bertemu dengan saya,
dan saya nitip sama kamu, kalau sampean belum menciptakan keturunan jangan
turun-turun dari ujung ilalang tersebut”, dan adeknya sanggup.
Dan pada waktu itu adi podey
bermimpi bersopena (memadu kasih sayang secara batin) dengan potre koneng,
sehingga kemudian tercipta keturunan yang menjadi mahkota dalam kehidupannya yaitu
joko tole, dan Adi Rasa tidak diketahui kemana perginya semenjak keduanya
berpisah berpisah. Dan Adi Rasa sebelum pergi dia berkata kepada adiknya “
dimana ada kuburan baru yang tidak ada orang meninggal itu bekasnya saya”, dan
begitupun dengan adiknya yang juga berpesan sama dengan kakaknya. Hingga
ahirnya, ditemukanlah kuburan baru yang terdapat di Nyamplong dan terus kemudian
menyusul kuburan baru yang bertempat di Belingi yang setiap malam jumat
memancarkan cahaya (tejhe), karena
pada waktu itu tidak sulit untuk mencari kuburan karena pada waktu itu Pulau
Sepudi masih sedikit penghuninya.
*Penulis adalah Anggota Kajian Pojok Surau PP
Nurul Jadid
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking