Vrydag 31 Mei 2013

CITA-CITA KH. ZAINI MUN’IM



CITA-CITA KH. ZAINI MUN’IM
“Mewujudkan pribadi muslim dan masyarakat yang konsisten dan konsekuen serta bertanggung jawab”
SOSOK SANTRI IDAMAN KH. ZAINI MUN’IM
»      Santri yang mukminun (beriman)
»      Muslimun (islam yang kokoh)
»      Taqiyun (bertaqwa)
»      Kafiun (kreatif)
»      Hamisun (bersemangat)
»      Nasyithun (aktif)
»      ‘Alimun (cakap/berilmu)
»      Mutadlominun (bertanggung jawab pada tugas)
»      Mutakafilun (bertanggung jawab dan peduli)
»      Mujahidun (berjuang/gigih)

Woensdag 29 Mei 2013

Tapak Tilas, Sang Pembabat Pulau Sapudi
Oleh: Muhammad Ali *
Sejarah merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, sejarah bisa menjadi bukti tentang adanya dinamika kehidupan dalam dunia ini. Dengan sejarah, kita akan mampu menelusuri atau meneliti tentang tapak tilas seseorang, baik itu dari jasa-jasanya dan artefak-artefak yang dia tinggalkan, baik berupa pusaka, perhiasan, dan juga hasil karaya-karyanya yang menjadi bukti kehidupannya.
Pulau Sapudi adalah kepulauan yang ada di kabupaten sumenep, tepatnya di arah timur kabupaten sumenep dibaratnya kepulauan Ra’as. Dipulau tersebut terdapat tokoh penyebar islam dan sekaligus pembabat pertama pulau tersebut, yang jasa-jasanya sangat dinikmati oleh masyarakat. baik yang berupa materi maupun non materi yaitu raden Aryo Pulang Jiwo atau lebih mashur disebut panembahan Sunan Wirokromo Blingi dan Aryo sepuh dewe (Adi Podey).
Dalam catatan silsilah yang ada di Asta Blingi (Tempat pemakamannya Sunan Wirokromo), raden Aryo Pulang Jiwo dan Aryo sepuh dewe (Adi Podey) masih mempunyai garis keturunan dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel Surabaya. Bahkan, dalam buku Babat  Sumenep, ia tercatat sebagai orang yang pertama kali yang membabat Pulau Sapudi dan Ra'as.
Banyak versi mengenai asal usul dari keduanya,  ada sebagian mengatakan Adi Rasa dan Adi Podey merupakan keturunan orang Madura, tetapi yang banyak berkembang dimasyarakat dan dikuatkan dengan penelusuran para ahli sejarah, yang benar keduanya merupakan keturunan orang jawa. dilihat dari perjalan sejarahnya, kemungkinan mereka merupakan keturunan dari seorang raja. Tetapi banyak orang menafsirkan bahwa Adi Rasa dan Adi Podey adalah keturunan raja tetapi, setelah melalui penelusuran sejarah raja yang mempunyai anak yang bertapa di gunung arjuna tidak ada, tetapi para ahli sejarah meneliti tentang tapak tilas dari keduanya, ia merupakan keturunan dari orang kampung, yang kemudian bertapa di gunung arjuna.
Selama bertapan di gunung arjuna, keduanya kemudian mendapatkan pusaka, yang menjadi pegangan selama turun dari gunung arjuna hingga sampai di Pulau Sapudi. dan menjadi alat pembabat Pulau Sapudi dan Ra’as, yaitu Adi Rasa mendapatkan Calok Kodhi sedangkan Adi Podey mendapatkan Calok Carangcang, dan pada waktu itu keduanya masih belum mempunyai nama julukan Adi Rasa dan Adi Podey.
Ketika Adi Rasa dan Adi Podey bertapa digunung arjuna, mereka terpaksa turun lantaran takut terkena imbas perang singosari. sehingga keduannya turun dari gunung arjuna, lewat pinggir timur sungai brantas, dan kemudian melanjutkan perjalanannya hingga melewati Surabaya, kemudian mengambil jalan pintas lewat daerah bangkalan, hingga sampai di pinggir timur pulau Madura yaitu daerah Lapa Taman.
Setelah sampai di Lapa Taman, kemudian mereka berdua meneruskan kembali perjalanannya sampai Kepulau Sapudi, dengan menaiki perahu kecil (Karocok), kalau melihat dari cerita yang berkembang sangat ada hubungannya antara kerajaan singosari dengan kejayaan Adi Podey pada waktu itu (red: Suryo).
Tempat persinggahan pertama kali Adi Rasa dan Adi Podey adalah di desa Kaloang, yang diberi nama langsung oleh Adi Podey dan juga merupakan awal tempat yang pertama kali meraka membabat pulau tersebut, sehingga di desa tersebut dinamai karang loang. Yang pada waktu itu masih belum dibentuk pulau, masih berbentuk rumah biasa, kemudian sedikit demi sedikit keduanya membentuk perkampungan yang di ambil dari nama karang tersebut sehingga di Sapudi terdapat nama desa yang bernama karang yaitu karang tengah dan karang loang.
Pada waktu itu, Pulau Sapudi masih belum ada penduduknya, yang menjadi awal mula pembabatan pulau tersebut kira pada abad ke-12. Beliau hanya bermodal dengan sebilah benda pusaka yang diyakini sangat sakti mandra guna untuk menjaga dirinya dari bahaya yang akan menghadang. Karena beliau sebagai pembabat pasti banyak rintangan yang akan menghadang, baik mahluk halus ataupun binatang buas, yang kapanpun bisa datang menerkam bahkan mencabik cabik dirinya. setelah selesai membabat pulau tersebut, kemudian keduannya mempunyai rencana untuk membentuk pembagian wilayah, yang kemudian didatangi oleh Pujangga Pertala Adi sebagai saksi pembagian Pulau Sapudi dan Pulau Ra’as.
Kedua pulau tersebut, pada waktu itu masih belum mempunyai nama, dan masih berbentuk wilayah. setelah berkumpul dengan Pertala Adi yang waktu itu sebagai tamu, kemudian Pujangga Pertala Adi memberi nama keduanya, yang tertua diberi julukan Adi Cipto Roso, karena Adi Rasa hanya mengandalkan perasaannya, hal itu terbukti dengan karomahnya, apa yang dia lihat dan dia rasakan mampu membuat barang yang lunak jadi keras dan yang keras menjadi lunak.
Nama itu yang pertama kali diberikan oleh pujangga pertala Adi kepada Adi Rasa, yang di cocokkan dengan kegiatannya mulai dari membabat pulau Sapudi hingga membentuk suatu perkampungan. Dan pujangga Pertala Adi bertanya kepada Adi Podey “ kamu bagai mana caranya membabat dan dengan apa” dan Adi Podey menjawabnya yaitu dengan Calok, dan pujangga pertala Adi mengatakan “ya, kalau begitu kamu bekerja lebih mampu ketimbang kakaknya”, dan kemudian diberi nama julukan Adi Sepuh Dewe.
Kemudia sang kakak terkejut mendengarnya, dan berkata “ kok dikasikan ke adek nama itu,  padahal dia lebih tua saya” dan pujangga Pertala Adi berkata “ iya benar, orangnya lebih tua kamu ketimbang adeknya, tetapi ilmunya lebih tua adeknya, kamu hanya dapat naik ke tali layang-layang, sedangkan adeknya dapat memanggil layangan yang ada di atas udara, kamu hanya dapat mengambil kelapa dengan bambu (kele), seandainya kamu sanggup mencondongkan kelapa tampa alat apa-apa, ya kamu benar yang paling tua. Adi Rasa “ ya ini sudah kemampuan saya” pujangga pertala adi “ ya sudah segala kemampuan adeknya merupakan keunggulan dari kamu, jadi sekarang yang mempunyai hak tertua ilmunya yaitu Adi Sepuh Dewe.
Setelah selesai bermusyawarah kemudia keduanya berpisah, Adi Cipto Roso kembali ke Ra’as dan Adi Sepuh Dewe ada di Sapudi. kemudia setelah bertemu lagi keduanya mengadu ilmu kesaktiannya, Adi Rasa dapat naik ke tali layangan yang kemudian ilmu tersebut diturunkan ke Pujuk Sahela (Angganete) nama Asli Ju’ Kaji, dan mempunyai putra perjaka yang mempunyai julukan Pujuk Lanceng. Setelah mengadu ilmu keduanya ternyata kakaknya kalah sama adeknya, sehingga kakaknya mempunyai keinginan untuk mengejar ilmu adeknya. sampai mengajak kembali kepertapaanya.
Dan kemudian bertapa di gunung Gegger bangkalan, yang tujuannya untuk menambah ilmunya (kesaktian). setelah lama bertapa, kemudian terjadi suatu kejadian yaitu hujan, angin yang luar biasa, sehingga diantara keduanya tidak bisa melihat akibat terjadi badai, dan dari situ batas berkumpulnya antara keduanya, karena akibat badai besar tersebut, dan kemudian Adi Rasa barkata pada adiknya “sekarang dik disini batasnya kamu berkumpul degan saya, Cuma dimana diakhir zaman kamu akan bertemu dengan saya, dan saya nitip sama kamu, kalau sampean belum menciptakan keturunan jangan turun-turun dari ujung ilalang tersebut”, dan adeknya sanggup.
Dan pada waktu itu adi podey bermimpi bersopena (memadu kasih sayang secara batin) dengan potre koneng, sehingga kemudian tercipta keturunan yang menjadi mahkota dalam kehidupannya yaitu joko tole, dan Adi Rasa tidak diketahui kemana perginya semenjak keduanya berpisah berpisah. Dan Adi Rasa sebelum pergi dia berkata kepada adiknya “ dimana ada kuburan baru yang tidak ada orang meninggal itu bekasnya saya”, dan begitupun dengan adiknya yang juga berpesan sama dengan kakaknya. Hingga ahirnya, ditemukanlah kuburan baru yang terdapat di Nyamplong dan terus kemudian menyusul kuburan baru yang bertempat di Belingi yang setiap malam jumat memancarkan cahaya (tejhe), karena pada waktu itu tidak sulit untuk mencari kuburan karena pada waktu itu Pulau Sepudi masih sedikit penghuninya. 

*Penulis adalah Anggota Kajian Pojok Surau PP Nurul Jadid




Maandag 20 Mei 2013







Calok Kodhi; Pusaka Peninggalan Sunan Blingi
Oleh; Mohammad Ali*

Calok kodhi begitulah orang sepudi menyebutnya, benda ini merupakan benda pusaka yang sakti mandra guna peninggalan raden Aryo Pulang Jiwo atau lebih mashur disebut panembahan Sunan Wirokromo Blingi. Beliau masih mempunyai keturunan darah biru dari Raden Rahmat Sunan Ampel Surabaya, menurut literatur yang ada, beliau juga tercatat dalam sejarah, bahwa beliau merupakan orang yang pertama kali membabat Pulau Sepudi dan Raas.
Kalau melihat dari silsilah atau cerita yang berkembang dalam masyarakat sangat ada hubungannya antara kerajaan singosari dengan kejayaan adi podey pada waktu itu. Sedangkan para ahli sejarah tidak menerima kebenaran ceritan tersebut, karena tidak ada kelangsungan dari cerita tersebut. jadi banyak versi mengenai asal usul dari keduanya,  ada sebagian yang mengatakan Adi Rasa dan Adi Podey merupakan keturunan orang Madura, tetapi yang banyak berkembang dan dikuatkan dengan penelusuran para ahli sejarah, yang benar keduanya merupakan keturunan orang jawa, dilihat dari jalannya sejarah tidak ada kemungkinan mereka merupakan keturunan dari seorang raja. Banyak masyarakat mengasumsikan bahwa Adi Rasa dan Adi Podey adalah keturunan raja tetapi setelah ditelusuri raja yang mempunyai anak yang bertapa di gunung arjuna tidak ada, ternya keduanya merupakan keturunan orang kampung yang kemudian bertapa di gunung arjuna.
Selama bertapan di gunung arjuna kemudian adi rasa mendapatkan Calok Carangcang dan adi podey mendapat Calok Kodhi, dan pada waktu itu keduanya masih belum mempunyai nama julukan adi rasa dan adi podey, sampai senjata tersebut digunakan untuk membabat pulau sapudi. setelah mendapatkan pusaka tersebut di Singosari terjadi peperangan, untuk menghindari peperangan itu keduanya turun lewat pinggir timur Sungai Brantas, hingga tiba di Surabaya, sesampainya di Surabaya mereka menyebrangi selat Madura, setelah berhasil menyebrangi selat tersebut mereka berjalan ke arah timur hingga sampai di Lapataman atau yang di kenal saat ini adalah Kabupaten Sumenep. 
Kemudian mereka melanjutkan kembali perjalannya kepulau kecil (Sapudi) dengan menggunakan perahu kecil (Karocok). Di pulau itulah senjata pusaka atau calok kodhi di gunakan oleh Adi Rasa untuk membabat pulau tersebut. “Adi Podey membabat pulau tersebut dari arah barat, sedangkan Adi Rasa memulainya dari arah timur,” tutur Massuryo Juru kunci tempat peristirahatan (Pasarean) Adi Podey.
Wirok Romo dan Wiro Broto merupakan gelar asli dari Adi Rasa dan Adi Podey yang diberikan oleh pujangga Pertala adi, nama tersebut diberikan setelah keduanya selesai membabat karang yang masih belum dibentuk pulau, kemudian mereka membuat tempat tinggal sebagai temapat untukberlindung, karena dulu sapudi marupakan hutan rimba yang banyak binatang buasnya.  Keduanya memulai membabat pulau tersebut pada tahun 1223 sampai tahun 1227, Adi Podey memulai dari arah barat pulau Sapudi yang dikenal dengan desa Karang Loang dan Adi Rasa dimulai dari arah timur yaitu yang kita kenal dengan pulau Raas, keduanya membabat pulau tersebut selama 4 tahun, setalah selesai membabat, keduanya mempunyai rencana untuk membentuk pembagian wilayah yang didatangi  oleh Pujangga Pertala Adi sebagai saksi pembagian wilayah tersebut, “ adi rasa dan adi podey membabat pada tahun 1223 sampai tahun 1227 yaitu 4 tahun utuk membabat sapudi dan raas,”. Imbuh Massuryo
Hasil babatan dari Adi Rasa dengan senjata pusakanya kini pulau tersebut diberi nama Pulau Raas, sedangkan Adi Podey memulai membabat dari arah barat yang kini dikenal dengan pulau Sapudi. Sampai saat ini calok kodhi masih di yakini oleh maasyarakat mampu membawa mamfaat besar. “ calok tersebut diyakini oleh masyarakat dapat menyembuhkan penyakit baik penyakit kepada manusia, hewan dan juga tanaman tanaman,” tutur  Abdurrahman penjaga calok kodhi.
***
Setelah beliau wafat, pusaka tersebut tidak semerta merta hilang di telan bumi begitu saja, akan tetapi terus di abadikan oleh masyarakat setempat sebagai benda pusaka sakti, menurut kepercayaan masyarakat pulau Sapudi, pusaka tersebut hingga saat ini masih diyakini banyak membawa  keberkahan kepada masyarakat.
Hal ini terbukti ketika ada seseorang yang jatuh sakit, biasanya orang tersebut atau keluarganya akan memberi minum air bekas memandikan pusaka calok kodhi peninggalan beliau. Dengan izin yang maha kuasa penyakit yang menimpanya sembuh dengan pelantara meminum air tersebut.
Lebih jelasnya, pusaka ini digunakan saat tanaman para petani terkena penyakit hama, pusaka itu diyakini mampu menyembuhkan penyakit tersebut dengan cara membawa pusaka mengelilingi desa atas permintaan dari masyarakat setempat dan atas izin kepala desa setempat, sebelum mengelilingi desa, masyarakat masih mengadakan ritual khusus yakni, mengadakan selametan, membaca tahlil bersama dan tidak tidur sampai pagi hari, setelah ritual itu selesai tepatnya di pagi hari pusaka tersebut di bawa memutari desa. “ sebelum menyanggupi permintaan masyarakat, masyarakat diminta untuk meminta izin terlebih dahulu kepada kepala desa untuk kekompakannya,” tutur Abdurrahman.
Dalam mengelilingi desa tersebut, calok kodhi di gendong oleh orang yang memang dipercaya, biasanya yang banyak dipilih adalah keturunan dari orang yang dulunya juga menjadi penggendong calok kodhi tersebut, selama calok kodhi dalam gendongan orang tersebut, banyak keajaiban atau kejadian-kejadian aneh yang terjadi selama dalam perjalanan mengelilingi desa, seperti tidak lelah, tidak haus ketika berjalan sejauh apapun, cepat jalannya beda dengan jalannya orang biasanya, dan tidak sakit apabila terkena duri atau yang lain. dan apabila orang yang menggendong bukan keturunan dari orang  sebelumnya, maka akan mendapatkan halangan, seperti cepat lelah, dan orang yang menggendongnya akan selalu berganti-ganti karena menimbulkan rasa yang berbeda dengan sebelumnya. “hanya orang-orang khusus yang dapat menggendong pusaka tersebut, biasanya melalui jalur keturunan, dan kalau sudah lepas dari gendongan orang yang menggendongnya, maka orang tersebut akan merasakan lelah, sakit dan lain sebagainya,” imbuh   Abdurrahman
Selama dalam perjalanan mengelilingi desa, jama’ah tidak sepi dari rijeki yang di suguhkan oleh masyarakat, mulai dari makanan ringan sampai pada uang dan sebagainya. Biasanya ada juga yang meminta untuk diam atau istirahat di rumah warga yang meminta air calok kodhi tersebut, dan memberikan uang untuk menebus airnya. “ kalau masalah makanan banyak masyarakat yang memberi, mulai dari makanan ringan, Uang dan lain-lain,”. Imbuh Abdurrahman
Ritual memandikan pusaka calok kodhi, biasanya dilaksanakan setiap tahun sekali, yakni  bertepatan pada tanggal 10 bulan Asyuroh atau lebih dikenal dengan bulan muharram. Karena bulan tersebut diyakini oleh masyarakat Sapudi sebagai bulan yang istijabah atau keramat dalam melakukan ritual pusaka dan sebagainya.  
Sebelum memandikan calok tersebut, masyarakat masih mengadakan ritual khusus yakni, membaca solawat nariyah, surat Al-ihlas,  tahlil bersama. dan di awal-awal pembukaan acara biasa diisi dengan cerita tentang perjalanan Adi Podey dan Adi Rasa selama membabat di pulau sapudi. Dan air dari hasil memandikan pusaka tersebut banyak di yakini oleh masyarakat sebagai obat, sehingga masyarakat apabila mengikuti acara pemandikan pusaka tersebut,  banyak yang membawa botol air mineral untuk mengambil air hasil memandikan pusaka tersebut. “ banyak masyarakat meyakini bahwa Air Calok tersebut dapat menyembuhkan penyakit,” tutur Abdurrahman
Dalam memandikan calok tersebut, yang menjadi pelengkap dalam ritual tersebut diantaranya  menggunakan bunga mawar, daun pandan dan air hangat, air hangat tersebut agar hasil air pusaka tersebut awet tidak bau.  air tersebut di butuhkan oleh masyarakat sebagai obat, baik untuk manusia dan juga hewan. hal ini banyak diyakini dan terbukti hasiaatnya, kerena mereka yakin itu semua adalah dari Allah melalui prantara calok tersebut. “karena mereka meyakininya, dan terbukti, sehingga ketika sudah 10 asuroh banyak orang yang datang untuk mengambil airnya untuk di jadikan obat,” imbuhnya
 Dalam acara pemandian Calok tidak hanya dihadiri oleh masyarakat setempat saja, melainkan dihadiri dari berbgai desa yang ada di Sapudi. biasanya mereka datang dengan berkelompok-kelompok (rombongan) perdesa, seperti; desa tarebung, kaloang, jambuir, dan desa-desa yang lain yang ada di sapudi. Dan mereka tidakhanya datang untuk mendapatkan air barokah tersebut, melainkan untuk bersilaturrahmi dengan mengadakan selametar dan tasyakkuran sebagai rasa sukur kepada Allah SWT dan mengenang jasa-jasa para leluhur pulau Sapudi.
Jangan pernah melupakan tradisi, karena tradisi merupakan ciri khas dari kehidupan masyarakat tersebut.


* Adalah Santri Aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton-Probolinggo